pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

slot depo 10k slot depo 10k
Nasional

Kota Jambi Tingkatkan Urban Farming Terintegrasi Melalui Semai Agrobiopori

Pertumbuhan populasi yang pesat di perkotaan sering kali menimbulkan tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menjaga kualitas lingkungan. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi meluncurkan program inovatif yang mengintegrasikan praktik urban farming dengan semai agrobiopori. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan di wilayah perkotaan, menjadikannya lebih sehat dan berkelanjutan.

Inisiatif Urban Farming Terintegrasi di Jambi

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi, Evridal Asri, mengungkapkan bahwa program ini merupakan respons terhadap meningkatnya kebutuhan pangan seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 654.194 jiwa. Tantangan dalam pengelolaan lingkungan juga menjadi fokus utama, mengingat urbanisasi yang pesat di daerah tersebut.

Pada kesempatan Rakor PM ASS dan Sosialisasi Pengembangan Pertanian Perkotaan, yang diadakan baru-baru ini, program ini diperkenalkan secara resmi. Dalam acara tersebut, juga dilakukan penyerahan alat dan mesin pertanian kepada kelompok tani serta penandatanganan perjanjian kerjasama antara Dinas Pertanian dan Fakultas Pertanian Universitas Jambi untuk implementasi agrobiopori.

Potensi Pertanian Perkotaan

Kota Jambi memiliki sekitar 1.332,60 hektare lahan yang terbagi menjadi 376,5 hektare ruang terbuka hijau dan 956,10 hektare lahan pertanian perkotaan. Menurut Evridal, potensi lahan ini perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan ruang terbuka yang ada, masyarakat dapat berkontribusi dalam penyediaan pangan secara mandiri.

  • Pemanfaatan lahan terbatas untuk budidaya sayuran dan tanaman pangan.
  • Optimalisasi ruang terbuka hijau untuk peningkatan kualitas lingkungan.
  • Pengembangan sistem pertanian yang ramah lingkungan.
  • Pengelolaan sumber daya air melalui teknologi biopori.
  • Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan pertanian perkotaan.

Tantangan Sampah dan Peluang Pengolahan Organik

Salah satu tantangan yang dihadapi Kota Jambi adalah pengelolaan sampah, dengan produksi mencapai sekitar 445,78 ton per hari. Namun, situasi ini juga membuka peluang untuk mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat untuk pertanian. Pengelolaan sampah organik yang baik dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas tanah dan konservasi lingkungan.

Evridal menjelaskan bahwa program urban farming terintegrasi dengan pengelolaan sampah organik akan menghasilkan dampak positif. Ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas tanah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam konservasi lingkungan dan pertanian perkotaan melalui semai agrobiopori.

Sinergi Lintas Sektor untuk Keberhasilan Program

Program urban farming yang diluncurkan di Jambi juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Dengan melibatkan berbagai pihak, diharapkan pengembangan pertanian perkotaan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Pemberdayaan masyarakat menjadi fokus utama, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya lokal.

  • Mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pertanian.
  • Kolaborasi antar lembaga untuk mencapai tujuan bersama.
  • Peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pertanian.
  • Pengembangan model pertanian yang adaptif terhadap perubahan lingkungan.
  • Inovasi teknologi dalam praktik urban farming.

Visi Ke Depan untuk Urban Farming di Jambi

Evridal berharap program ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan secara keseluruhan. Dengan mengedepankan inovasi dalam teknologi agrobiopori, diharapkan model urban farming yang dikembangkan dapat direplikasi di daerah lain.

Sementara itu, Wali Kota Jambi, Maulana, menegaskan komitmen Pemerintah Kota untuk mengembangkan urban farming berbasis agrobiopori. Pengoptimalan lahan terbatas, termasuk pekarangan dan lahan tidur, akan digunakan untuk budidaya sayuran, cabai, dan tanaman pangan lainnya. Dengan memanfaatkan teknologi polybag dan hidroponik, diharapkan hasil pertanian dapat meningkat secara signifikan.

Pengolahan Sampah Organik dan Konservasi Air

Selain itu, pemerintah juga berupaya mengolah sampah organik menjadi kompos, yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Penggunaan lubang biopori sebagai salah satu metode konservasi air juga menjadi bagian penting dari program ini. Dengan cara ini, diharapkan keberlanjutan sumber daya air dapat terjaga, sekaligus mendukung pertanian perkotaan.

Dengan langkah-langkah yang diambil oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi, diharapkan urban farming jambi dapat berkembang pesat. Melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi, program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan, sekaligus memastikan ketahanan pangan bagi seluruh warga kota.

➡️ Baca Juga: Warga Karang Makmur Adakan Jalan Santai dengan Kostum Profesi yang Menarik

➡️ Baca Juga: Kolong Jembatan Disulap Jadi Akses Penyeberangan Saat Arus Mudik – Video

Related Articles

Back to top button