Rekonstruksi Kampung Adat Sade: Sorotan Guru Besar Unram untuk Pembangunan Berkelanjutan

Rekonstruksi Kampung Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, telah menjadi perhatian serius. Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram, Profesor Nuriadi, mengingatkan pentingnya menjaga keaslian dalam proses pembangunan. Dalam konteks ini, pemahaman terhadap warisan budaya dan identitas masyarakat sangat krusial agar pembangunan tidak hanya menjadi sekadar proyek fisik, tetapi juga menghormati dan melestarikan nilai-nilai budaya setempat.
Pentingnya Mempertahankan Keaslian Budaya
Profesor Nuriadi menekankan bahwa rekonstruksi Kampung Adat Sade sebaiknya tidak mengarah pada penyeragaman bentuk rumah yang menghilangkan karakter asli. “Kita harus berhati-hati agar tidak menjadikan Sade seperti kompleks perumahan yang terkesan buatan, bukan yang otentik,” ungkapnya dalam sebuah diskusi di Mataram. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman arsitektur dan desain rumah adat di Sade merupakan bagian integral dari identitas budaya Suku Sasak.
Menurut Nuriadi, setiap elemen rumah dan lingkungan di Kampung Adat Sade memiliki nilai historis dan sosial yang harus dihormati. Penyeragaman dapat mengancam warisan budaya yang telah ada selama berabad-abad.
Makna Kampung Adat Sade bagi Masyarakat
Kampung Adat Sade tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol budaya dan sejarah masyarakat Suku Sasak. Sebagai salah satu ikon wisata budaya di Nusa Tenggara Barat, Sade menampilkan gaya hidup masyarakat yang kaya akan tradisi. Arsitektur rumah, tata perilaku, benda pusaka, pakaian tenun, serta kesenian daerah adalah bagian dari kekayaan yang harus dijaga dalam rekonstruksi ini.
- Arsitektur unik yang mencerminkan tradisi lokal
- Tata perilaku yang mencerminkan nilai-nilai sosial
- Benda pusaka yang memiliki makna sejarah
- Pakaian tenun yang menggambarkan kearifan lokal
- Kesenian yang merupakan bagian dari ekspresi budaya
Kolaborasi dalam Rekonstruksi
Nuriadi menegaskan bahwa rekonstruksi Kampung Adat Sade harus melibatkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh-tokoh adat. Proses ini tidak hanya sebatas pembangunan fisik, tetapi juga harus mencakup pemulihan nilai-nilai budaya yang hilang akibat kebakaran yang terjadi pada 22 Agustus 2026, yang mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat setempat.
“Rekonstruksi ini bukan hanya tentang bangunan yang terbakar, tetapi juga tentang kehilangan warisan budaya,” tegasnya. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan masyarakat dalam setiap langkah rekonstruksi agar hasil akhirnya dapat mencerminkan keinginan dan kebutuhan mereka.
Memulihkan Memori Kolektif Masyarakat
Salah satu fokus utama dalam proses rekonstruksi adalah pemulihan benda pusaka dan memori kolektif masyarakat. Nuriadi menekankan bahwa masyarakat Sade memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bentuk, fungsi, dan nilai-nilai budaya yang ada sebelum kebakaran. Pengetahuan ini sangat berharga untuk memastikan bahwa rekonstruksi dapat mencerminkan identitas asli Kampung Adat Sade.
“Pemulihan ini membutuhkan pendekatan yang hati-hati dan perhatian khusus. Kita tidak hanya membangun kembali fisik, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan dan nilai-nilai yang telah ada,” ujarnya.
Perencanaan Jarak Antarbangunan
Selain mempertahankan keaslian bentuk rumah, Nuriadi juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan jarak antarbangunan dalam perencanaan permukiman. Pola permukiman komunal yang rapat adalah ciri khas kehidupan masyarakat Sasak, sehingga setiap perubahan harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menjaga interaksi sosial yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
“Setiap aspek dari penataan ruang harus mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan komunal, sehingga masyarakat tetap dapat menjalani tradisi dan kebiasaan mereka,” imbuhnya.
Perhatian pada Unsur Budaya yang Hilang
Ketika berbicara tentang rekonstruksi, Nuriadi menggarisbawahi bahwa pembangunan fisik memang dapat dilakukan dengan cepat. Namun, perhatian yang lebih dalam diperlukan untuk mengidentifikasi dan menghadirkan kembali unsur-unsur budaya yang mungkin hilang akibat kebakaran. Ini termasuk benda-benda bersejarah, elemen arsitektur tradition, dan praktik budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun.
- Penggunaan material tradisional dalam pembangunan
- Pemulihan benda pusaka yang memiliki nilai sejarah
- Restorasi elemen arsitektur yang khas
- Penghidupan kembali praktik budaya yang hilang
- Kolaborasi dengan seniman lokal untuk menjaga kesenian
Harapan untuk Komunitas dan Pembangunan Berkelanjutan
Dalam penutupan, Nuriadi berharap semua pihak yang terlibat dalam rekonstruksi Kampung Adat Sade dapat mendengarkan aspirasi masyarakat lokal. Proses ini harus melibatkan dialog yang terbuka dan inklusif agar pembangunan tidak hanya mengembalikan aspek fisik, tetapi juga menghidupkan kembali budaya tak benda yang menjadi jati diri Kampung Adat Sade.
“Penting untuk merangkul semua elemen masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan. Dengan demikian, kita tidak hanya membangun kembali rumah, tetapi juga memperkuat identitas dan kebudayaan yang telah ada,” pungkasnya.
Dampak Kebakaran dan Upaya Pemulihan
Kampung Adat Sade mengalami kebakaran yang cukup parah pada pukul 22.00 WITA, 22 Agustus 2026, yang menghancurkan 75 rumah adat, delapan berugak (gazebo), enam sekenam, satu masjid, dua toilet, serta 69 artshop. Kejadian ini bukan hanya merusak tempat tinggal, tetapi juga menghancurkan simbol-simbol budaya masyarakat setempat.
Menurut saksi mata, api pertama kali muncul dari salah satu rumah di tengah permukiman, dan dengan cepat merambat ke bangunan lain yang sebagian besar terbuat dari material mudah terbakar, seperti kayu, bambu, dan ilalang. Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan terhadap warisan budaya.
Kampung Adat Sade: Warisan Budaya yang Harus Dilestarikan
Kampung Adat Sade merupakan salah satu kampung adat tertua di Pulau Lombok yang sudah ada sejak abad ke-16 dan telah diwariskan dari generasi ke generasi selama 15 abad. Keberadaannya menjadi simbol penting dari sejarah dan budaya Suku Sasak yang kaya akan tradisi.
Melalui rekonstruksi yang tepat, diharapkan Kampung Adat Sade dapat bangkit kembali sebagai pusat budaya yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi tempat di mana masyarakat dapat melestarikan dan merayakan warisan budaya mereka. Dengan demikian, masa depan Kampung Adat Sade diharapkan bisa lebih cerah, dengan tetap menghormati akar budaya yang mendasarinya.
➡️ Baca Juga: 10 Resto Keluarga Terbaik di Surabaya yang Harus Anda Kunjungi
➡️ Baca Juga: Schneider Electric Capai Target Utama Global dengan Menyelesaikan SSI 2021-2025



