Di sepanjang garis pantai Ise-Shima, Jepang, terdapat tradisi unik yang telah bertahan selama berabad-abad. Para wanita yang dikenal sebagai Ama, atau ‘wanita laut’, telah menyelam tanpa menggunakan peralatan selam modern, termasuk tabung oksigen, untuk mengumpulkan makanan laut dari dasar laut. Dengan kemampuan menahan napas yang luar biasa dan pengalaman yang didapat selama bertahun-tahun, mereka menjelajahi kedalaman perairan yang dingin dan kaya akan kehidupan laut.
Tradisi Menyelam yang Mengagumkan
Praktik menyelam ini tidak hanya sekadar cara untuk mencari nafkah, tetapi juga merupakan bagian penting dari budaya dan warisan lokal. Beberapa wanita terus menjalani tradisi ini hingga usia lanjut, bahkan sampai 70-an dan 80-an. Di antara mereka, Reiko Nomura menjadi salah satu sosok paling dikenal. Di usia 80 tahun, Nomura telah menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai penyelam Ama, mencari abalon dan berbagai makhluk laut lainnya di perairan sekitar Osatsu, Prefektur Mie.
Walaupun jumlah penyelam Ama semakin berkurang, keahlian yang mereka miliki melambangkan pengetahuan ekologis yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan mengamati pasang surut, musim, dan kehidupan laut, mereka mengembangkan keterampilan yang mendalam dan pemahaman tentang lingkungan laut di sekitar mereka.
Pengenalan Ama
Ama, yang secara harfiah berarti ‘wanita laut’, adalah penyelam yang mengandalkan teknik menyelam bebas. Berbeda dengan penyelam yang menggunakan alat bantu, mereka mengandalkan satu tarikan napas untuk menjelajahi dasar laut. Dalam satu kali penyelaman, seorang Ama dapat mencapai kedalaman hingga 15 meter dan menahan napas selama sekitar 60 detik.
- Menyelam tanpa alat bantu pernapasan.
- Mampu menyelam hingga 15 meter dalam satu tarikan napas.
- Menahan napas hingga 60 detik.
- Keterampilan yang diperoleh dari pengalaman bertahun-tahun.
- Mengandalkan pengetahuan mendalam tentang kehidupan laut.
Sejarah Panjang Tradisi Ama
Menelusuri akar sejarah penyelaman Ama, tradisi ini telah ada selama lebih dari 3.000 tahun. Pihak berwenang pariwisata Jepang mencatat bahwa praktik ini merupakan bagian integral dari budaya perikanan negara selama tiga hingga lima ribu tahun. Meskipun demikian, dokumentasi resmi yang ada menunjukkan bahwa referensi awal tentang Ama dapat ditemukan dalam kumpulan puisi Man’yoshu yang berasal dari abad kedelapan.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menyelam Ama adalah tradisi kuno yang memiliki sejarah yang kaya, meskipun tidak selalu bisa dipastikan bahwa praktiknya tetap tidak berubah selama ribuan tahun. Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan telah menjadi fondasi bagi teknik penyelaman yang terus dilestarikan hingga saat ini.
Keahlian yang Diturunkan
Keahlian yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Ama tidak diperoleh dengan mudah. Pengetahuan ini biasanya diturunkan dari generasi ke generasi, di mana penyelam yang lebih tua mengajar yang lebih muda tentang cara mengenali area yang produktif dan memahami kondisi laut yang berubah-ubah. Mereka juga belajar bagaimana memanen kehidupan laut dengan cara yang berkelanjutan, tanpa merusak sumber daya lokal yang ada.
Reiko Nomura: Simbol Tradisi Ama
Reiko Nomura adalah salah satu contoh terbaik dari seorang wanita laut berusia 80 tahun yang mewakili tradisi ini. Dengan latar belakang yang kuat dalam budaya Ama di Osatsu, Prefektur Mie, Nomura telah menjadi simbol dari dedikasi dan ketahanan para penyelam wanita di Jepang. Profilnya yang dipublikasikan pada tahun 2012 menunjukkan betapa pentingnya peran wanita dalam melestarikan tradisi ini, meskipun tantangan modern terus mengancam keberadaannya.
Warisan dan Tantangan Modern
Walaupun tradisi Ama memiliki akar yang dalam dalam sejarah Jepang, saat ini, mereka menghadapi tantangan yang signifikan. Perubahan lingkungan dan penurunan jumlah penyelam muda menjadi perhatian utama. Banyak wanita muda yang memilih jalur karier lain, meninggalkan tradisi yang telah ada selama ribuan tahun ini. Namun, upaya untuk melestarikan pengetahuan dan keterampilan ini terus dilakukan oleh komunitas lokal.
Selain itu, dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan, ada harapan bahwa tradisi Ama akan terus dihormati dan dilestarikan. Program-program pelatihan dan pendidikan diharapkan dapat menginspirasi generasi berikutnya untuk terlibat dalam praktik penyelaman yang sudah menjadi bagian dari identitas budaya mereka.
Kesimpulan
Tradisi penyelaman Ama yang telah ada selama ribuan tahun ini merupakan bagian penting dari warisan budaya Jepang. Wanita laut berusia 80 tahun seperti Reiko Nomura tidak hanya menunjukkan ketahanan dan dedikasi, tetapi juga menyoroti pentingnya melestarikan pengetahuan tradisional. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, harapan untuk masa depan tradisi ini tetap ada, mengingat betapa berharganya kebijaksanaan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.
➡️ Baca Juga: Paskah di Jakbar: Pramono Anung Tekankan Jakarta Berkemajuan Melalui Aspek Non-Fisik
➡️ Baca Juga: Festival Pahlawan Anak: “Save the Children” Dukung Perlindungan Hak Anak di Indonesia
