Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengumumkan sebuah langkah penting dengan menetapkan 18 Mei sebagai Hari Tatar Sunda. Keputusan ini menandai sebuah era baru dalam pengakuan dan pelestarian budaya Sunda, yang akan dirayakan setiap tahunnya mulai tahun ini. Hari Tatar Sunda diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya dan kebangsaan masyarakat Jawa Barat.
Regulasi Resmi untuk Hari Tatar Sunda
Penyelenggaraan Hari Tatar Sunda telah diformalkan melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026. Regulasi ini merupakan langkah konkrit untuk memastikan bahwa perayaan ini dapat berlangsung secara terorganisir dan berkelanjutan. Dengan adanya dasar hukum ini, diharapkan segala kegiatan yang berkaitan dengan Hari Tatar Sunda dapat dilaksanakan dengan baik dan memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat.
Ikon Peringatan: Prosesi Kirab
Salah satu elemen utama dalam perayaan Hari Tatar Sunda adalah kirab, sebuah prosesi yang melibatkan perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain dengan mengusung tema budaya dan dialog (sawala). Kirab ini bukan hanya sekadar acara, tetapi juga simbolisasi dari perjalanan budaya yang kaya dan beragam di tanah Sunda. Melalui prosesi ini, masyarakat dapat ikut serta dalam merayakan dan menghidupkan kembali tradisi leluhur.
Timeline Kegiatan Peringatan
Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Tatar Sunda akan dimulai pada 2 Mei hingga puncaknya pada 18 Mei. Kegiatan ini dirancang untuk melibatkan masyarakat luas dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal.
- Napak tilas Tatar Pasundan di 8 titik, dimulai dari Kabupaten Sumedang hingga berakhir di Kabupaten Cirebon.
- Karnaval budaya di Kota Bandung yang akan diikuti oleh 27 pemerintah kabupaten/kota di Jawa Barat pada 16 Mei 2026.
- Pertunjukan kolosal yang akan menampilkan karya seni bersama Sujiwo Tedjo di Gedung Sate pada 17 Mei 2026.
- Penyampaian nilai-nilai budaya Sunda dalam setiap kegiatan yang berlangsung.
- Partisipasi aktif masyarakat dalam merayakan tradisi dan budaya lokal.
Tema Peringatan: Nyuhun Buhun, Nata Nagara
Tema peringatan Hari Tatar Sunda, “Nyuhun Buhun, Nata Nagara,” memiliki makna yang mendalam. Ini mencerminkan upaya untuk mengangkat kembali tradisi baik yang telah diwariskan oleh para leluhur. Dalam konteks ini, tema tersebut juga mengaitkan nilai-nilai budaya dengan upaya untuk menata dan membangun Jawa Barat ke arah yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa budaya tidak hanya menjadi bagian dari identitas, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dalam pembangunan daerah.
Kegiatan Budaya yang Meriah
Rangkaian kegiatan yang telah disiapkan mencakup berbagai bentuk seni dan budaya. Dimulai dengan napak tilas yang tidak hanya mengenalkan tempat-tempat bersejarah, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali akar budaya mereka. Ini adalah kesempatan bagi generasi muda untuk belajar dan memahami pentingnya budaya Sunda dalam konteks modern.
Karnaval Budaya di Bandung
Karnaval budaya yang akan berlangsung di Kota Bandung pada 16 Mei 2026 menjadi salah satu sorotan utama. Acara ini akan melibatkan partisipasi dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, yang akan menampilkan beragam kesenian dan kebudayaan. Rute karnaval yang dimulai dari Monumen Perjuangan menuju Gedung Sate akan menjadi panggung bagi berbagai penampilan seni, termasuk tarian dan musik tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya Sunda.
Persembahan Pertunjukan Kolosal
Puncak acara perayaan Hari Tatar Sunda akan diadakan pada 17 Mei 2026 di Gedung Sate. Pertunjukan kolosal yang akan dipersembahkan oleh Sujiwo Tedjo diharapkan dapat menarik perhatian publik dan menampilkan kekayaan budaya Sunda dalam bentuk seni yang spektakuler. Acara ini diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata yang mendukung promosi budaya Jawa Barat secara lebih luas.
Kehadiran Mahkota Binokasih
Salah satu elemen menarik dalam karnaval adalah penampilan Mahkota Binokasih. Mahkota ini akan diarak dalam kereta kencana yang dikawal oleh gubernur, wakil gubernur, serta bupati/walikota. Kehadiran Mahkota Binokasih ini bukan hanya melambangkan kemewahan, tetapi juga sebagai simbol dari kekuatan dan kekayaan budaya Sunda yang harus dijaga dan dilestarikan.
Penguatan Identitas Budaya
Iendra Sofyan menegaskan bahwa peringatan Hari Tatar Sunda merupakan bagian dari upaya untuk memajukan budaya lokal. Melalui berbagai kegiatan, masyarakat akan diingatkan kembali tentang pentingnya tradisi dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Sunda. Ini menjadi momentum untuk menciptakan kesadaran kolektif akan arti penting pelestarian budaya dan identitas daerah.
Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Budaya
Partisipasi aktif masyarakat dalam perayaan Hari Tatar Sunda sangat diharapkan. Kegiatan ini bukan hanya untuk dinikmati oleh kalangan tertentu, tetapi harus melibatkan semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai budaya dapat diwariskan kepada generasi mendatang dan tidak akan pudar oleh waktu.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan adanya Hari Tatar Sunda, diharapkan budaya Sunda dapat terus hidup dan berkembang. Ini adalah kesempatan bagi seluruh masyarakat Jawa Barat untuk bersatu dalam merayakan warisan budaya yang kaya. Melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan, diharapkan akan muncul minat yang lebih besar terhadap budaya lokal dan meningkatkan rasa bangga sebagai orang Sunda.
Hari Tatar Sunda bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan panggilan untuk menjaga dan melestarikan budaya yang telah ada sejak lama. Ini adalah langkah positif menuju masa depan yang lebih baik, di mana budaya menjadi salah satu pilar dalam pembangunan masyarakat.
➡️ Baca Juga: DPRD DKI Mendesak DLH Kembalikan Ritase Sampah Cilandak Akibat Krisis Lahan TPS
➡️ Baca Juga: Golden State Warriors Tundukkan Washington Wizards dengan Skor 125-117
