Sutradara Bene Dion Tampilkan Keindahan Pariwisata Sumut dalam Film “Pulang Kampung

Jakarta – Sutradara Bene Dion Rajagukguk berkomitmen untuk menonjolkan potensi pariwisata Sumatera Utara melalui film musikal terbarunya berjudul “Pulang Kampung”. Dalam film ini, ia menghadirkan keindahan alam dan budaya lokal melalui adegan menawan yang menyajikan lagu medlei. Hal ini menunjukkan bahwa film bukan hanya medium hiburan, tetapi juga sarana untuk mempromosikan destinasi wisata yang kaya akan pesona.
Memperkenalkan Keindahan Sumatera Utara
Proses pengambilan gambar film ini berlangsung di sejumlah lokasi wisata ikonik yang mencerminkan kekayaan budaya Batak. Melalui pemilihan lokasi yang cermat, Bene Dion berupaya untuk memberikan gambaran yang autentik tentang keindahan pariwisata Sumut kepada penonton.
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Bene menjelaskan, “Kami ingin menunjukkan keindahan dan pariwisata Sumatera Utara melalui adegan ‘medley’ ini.” Pernyataan ini mencerminkan dedikasinya untuk mengangkat citra pariwisata daerah tersebut ke kancah yang lebih luas.
Durasi Pengambilan Gambar yang Menyeluruh
Produser film, Ernest Prakasa, mengungkapkan bahwa keseluruhan proses pengambilan gambar film ini berlangsung selama 26 hari. Dari total waktu tersebut, 21 hari dihabiskan di Sumatera Utara dan lima hari di Jakarta. Khusus untuk adegan medlei, tim produksi mengalokasikan waktu selama empat hari, memastikan setiap detail terekam dengan sempurna.
Menjaga Otentisitas Melalui Pemilihan Pemeran
Untuk menjaga otentisitas lokasi, produser Dipa Andika menjelaskan bahwa tim produksi berkomitmen untuk tidak menggunakan pemeran figuran yang sama di berbagai lokasi. Hal ini bertujuan untuk memastikan kesesuaian demografi penduduk setempat di setiap lokasi syuting, memberikan gambaran yang lebih akurat tentang masyarakat Sumatera Utara.
Perekrutan pemeran dilakukan dengan mempertimbangkan kebiasaan dan usia warga di setiap lokasi. Misalnya, ketika syuting di area lapo, tim memilih untuk merekrut sekelompok bapak-bapak setempat, sehingga menciptakan suasana yang lebih natural dan sesuai dengan konteks budaya.
Menyesuaikan Karakteristik Lokasi
Di lokasi lain, yang didominasi oleh perempuan, tim produksi menyesuaikan rentang usia para pemeran. Mereka melibatkan kelompok ibu-ibu berusia antara 30 hingga 60 tahun, serta anak muda di lokasi-lokasi seperti Danau Toba dan area wisata air mancur.
- Di lokasi lapo, fokus pada kelompok bapak-bapak.
- Di area yang didominasi perempuan, melibatkan ibu-ibu usia 30-60 tahun.
- Lokasi wisata Danau Toba melibatkan generasi muda.
- Setiap lokasi memiliki karakteristik demografis yang unik.
- Tim produksi berupaya menjaga keaslian dan keautentikan masyarakat setempat.
Dipa Andika melanjutkan, “Jika Bene melihat bahwa di suatu tempat didominasi oleh ibu-ibu, maka kami akan menyesuaikan pemeran di lokasi tersebut.” Dengan pendekatan ini, mereka menciptakan representasi yang lebih realistis dan menghargai budaya lokal.
Komposisi Musik yang Mencerminkan Keberagaman Etnis
Komposer Viky Sianipar bertanggung jawab atas aransemen lagu medlei yang menjadi bagian penting dalam film ini. Ia merancang musik yang mencerminkan tradisi dari berbagai etnis yang ada di Sumatera Utara, termasuk Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Dengan demikian, film ini tidak hanya menjadi sarana hiburan tetapi juga merayakan kekayaan budaya lokal.
Viky menjelaskan bahwa komposisi musik Batak Toba mendominasi hingga 80 persen dari keseluruhan aransemen, sementara unsur-unsur etnis lainnya disisipkan secara harmonis melalui struktur medlei. “Semua lengkap sih, karena pada dasarnya 80 persen ini Batak Toba. Namun, kami tetap ingin menonjolkan keberagaman,” ujarnya.
Standar Produksi yang Tinggi
Dengan standar produksi yang tinggi, Viky mengungkapkan bahwa film “Pulang Kampung” mengalokasikan dana yang jauh lebih besar dibandingkan dengan film-film biasa yang mereka buat. Ia memperkirakan bahwa anggaran untuk film ini bisa mencapai tiga kali lipat dari film biasanya, sejalan dengan ambisi untuk menciptakan sebuah karya musikal yang sebanding dengan film pemenang Oscar, seperti “La La Land”.
“Bisa tiga kali film biasa,” kata Viky, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kualitas yang terbaik dalam setiap aspek produksi film ini.
Peluncuran Film yang Dinantikan
Film musikal “Pulang Kampung” yang menghadirkan sembilan lagu dalam keseluruhan tayangannya dijadwalkan untuk rilis serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia pada tanggal 26 November 2026. Antusiasme penonton untuk menyaksikan karya ini semakin meningkat, mengingat fokusnya pada pariwisata Sumut dan keindahan budaya yang ada di dalamnya.
Dengan segala usaha dan dedikasi yang ditunjukkan oleh tim produksi, “Pulang Kampung” tidak hanya bertujuan untuk menghibur, tetapi juga untuk memperkenalkan keindahan dan kekayaan budaya Sumatera Utara kepada masyarakat luas. Ini adalah langkah penting dalam mempromosikan pariwisata daerah yang memiliki potensi besar.
➡️ Baca Juga: Vacherot Kalahkan Musetti di Monte Carlo, Curi Perhatian Pendukung Lokal
➡️ Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Idulfitri Jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 dengan Metode Istikmal



