Riset ITB Temukan 26.839 Kematian di Jalan pada 2024, ABS Potensial Turunkan Angka Kematian

Jakarta – Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini mengungkapkan bahwa upaya pemerintah untuk mengurangi angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas ke angka 15.160 orang pada tahun 2030 masih memiliki banyak kendala. Hal ini menjadi perhatian serius, terutama mengingat data yang menunjukkan tingginya angka kematian di jalan.
Angka Kematian di Jalan yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ITB, diperkirakan 26.839 individu akan kehilangan nyawa mereka akibat kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2024. Angka ini mencerminkan peningkatan sebesar 6,2 persen jika dibandingkan dengan angka kematian di tahun 2021. Situasi ini menunjukkan bahwa tantangan dalam meningkatkan keselamatan lalu lintas masih sangat besar.
Pentingnya Keselamatan Lalu Lintas
Menurut Peneliti ITB, Sony Sulaksono Wibowo, keselamatan di jalan dimulai dari identifikasi dan perbaikan potensi bahaya. Salah satu sumber bahaya yang signifikan adalah kendaraan roda dua, yang menjadi penyebab utama kecelakaan. ITB sedang melakukan kajian tentang sistem keselamatan untuk mengatasi masalah ini.
Tingginya angka kematian di jalan sangat terkait dengan dominasi sepeda motor sebagai alat transportasi. Di Indonesia, sekitar 84 persen dari total kendaraan yang terdaftar adalah sepeda motor. Lebih mencengangkan lagi, 73 persen dari lebih dari 149.000 kecelakaan yang terjadi setiap tahun melibatkan kendaraan roda dua.
Intervensi Melalui Teknologi Pengereman
Menyadari kondisi tersebut, kajian ITB menyoroti pentingnya teknologi pengereman sebagai langkah intervensi untuk mengurangi risiko kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Sony menekankan bahwa analisis keselamatan harus dimulai dengan memahami potensi bahaya yang ada pada kendaraan.
Peran Teknologi Keselamatan
Penggunaan teknologi keselamatan yang tepat dapat menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka kematian di jalan. Riset ITB memperkirakan bahwa penerapan teknologi pengereman pada sepeda motor baru dapat mencegah antara 26.679 hingga 111.163 kematian hingga tahun 2045, tergantung pada skenario implementasinya.
Salah satu fokus utama dalam kajian ini adalah waktu kritis ketika pengendara harus melakukan pengereman darurat. Dalam situasi seperti ini, roda sepeda motor dapat terkunci dalam waktu kurang dari 0,2 detik, sedangkan manusia membutuhkan waktu rata-rata sekitar 0,75 detik untuk bereaksi, terutama dalam kondisi panik. Ini menunjukkan bahwa sistem pengereman yang efektif sangat penting untuk menjaga keselamatan pengendara di jalan.
Perbandingan Sistem Pengereman
Riset yang dilakukan oleh ITB juga melakukan perbandingan antara sistem Combined Braking System (CBS) dan Anti-lock Braking System (ABS). CBS mendistribusikan gaya pengereman ke roda depan dan belakang secara bersamaan, namun tidak mencegah roda dari penguncian saat pengereman. Sementara itu, ABS secara otomatis mengatur tekanan pengereman untuk mencegah roda terkunci, yang memungkinkan pengendara untuk mempertahankan kendali atas kendaraan dalam situasi darurat.
Skenario Penerapan Teknologi Pengereman
Dalam kajiannya, ITB mengusulkan dua skenario penerapan teknologi pengereman yang direncanakan dimulai pada tahun 2027. Skenario pertama mencakup penerapan ABS untuk sepeda motor dengan kapasitas di atas 125 cc, sementara sepeda motor di bawah kapasitas tersebut akan dilengkapi dengan ABS atau CBS.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat mengurangi angka kematian di jalan secara signifikan. Keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama, dan dibutuhkan kolaborasi antar pihak untuk mewujudkannya.
Perlunya Kesadaran dan Edukasi Masyarakat
Selain teknologi, kesadaran dan edukasi masyarakat juga memegang peranan penting dalam menurunkan angka kematian di jalan. Pengendara harus dilengkapi dengan pemahaman yang baik mengenai keselamatan berkendara dan bahaya yang mungkin mereka hadapi. Program-program edukasi yang tepat dapat membantu mengubah perilaku berkendara masyarakat.
Faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas
Ada beberapa faktor lain yang juga berkontribusi terhadap tingginya angka kecelakaan lalu lintas, antara lain:
- Kedisiplinan pengendara dalam mematuhi peraturan lalu lintas.
- Kondisi jalan yang buruk, seperti lubang dan kurangnya penerangan.
- Kecelakaan akibat pengemudi yang mengemudi dalam keadaan mabuk atau terpengaruh obat.
- Kurangnya fasilitas keselamatan seperti helm dan pelindung lainnya.
- Kesadaran masyarakat tentang keselamatan lalu lintas yang masih rendah.
Peran Pemerintah dan Stakeholder
Pemerintah memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi pengendara. Penegakan hukum yang ketat terhadap pelanggaran lalu lintas harus dilakukan untuk memastikan bahwa setiap pengendara bertanggung jawab atas keselamatan dirinya dan orang lain. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan infrastruktur jalan dan menyediakan fasilitas yang mendukung keselamatan berkendara.
Stakeholder terkait, termasuk produsen kendaraan, juga diharapkan untuk terus melakukan inovasi dalam teknologi keselamatan kendaraan. Dengan menggabungkan upaya dari berbagai pihak, diharapkan angka kematian di jalan dapat ditekan secara efektif.
Menghadapi Tantangan ke Depan
Dengan prediksi angka kematian yang terus meningkat, tantangan untuk mencapai target pemerintah sangat besar. Namun, dengan pendekatan yang tepat dan kerjasama yang solid antara berbagai pihak, ada harapan untuk mengubah tren ini. Teknologi seperti ABS dan CBS merupakan langkah awal yang baik, tetapi tidak cukup jika tidak didukung oleh kesadaran dan tindakan nyata dari masyarakat.
Di masa depan, penting bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap keselamatan di jalan. Setiap nyawa yang hilang akibat kecelakaan lalu lintas adalah sebuah tragedi yang seharusnya bisa dihindari. Melalui pendidikan, teknologi, dan penegakan hukum yang tegas, kita dapat bersama-sama menurunkan angka kematian di jalan dan menciptakan lingkungan lalu lintas yang lebih aman bagi semua.
➡️ Baca Juga: Perum Bulog Sumut Siap Penuhi Kebutuhan Masyarakat dengan 46.000 Ton Beras dari Stok Nasional
➡️ Baca Juga: Kemenkes Tanggapi Cepat Gempa NTT dengan Penempatan Tim Medis dan Pemulihan Fasilitas Kesehatan




