123 IKM Perkakas Tangan di RI: Kemenperin Ungkap Potensi dan Pasar yang Luas

Jakarta – Kekuatan industri nasional dalam memproduksi perkakas tangan untuk sektor pertanian dan perkebunan semakin menunjukkan kemajuan yang signifikan. Produk-produk buatan dalam negeri kini telah terbukti mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, dengan kualitas yang sejalan dengan harapan pengguna. Fenomena ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi komoditas baja nasional.
Peluang Besar di Sektor Perkakas Tangan
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa industri perkakas tangan memiliki potensi yang sangat besar meski proses pembuatannya tergolong sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, IKM (Industri Kecil dan Menengah) di bidang ini dapat berkembang lebih jauh.
“Industri ini didukung oleh banyak tenaga kerja di sentra-sentra produksinya. Mereka telah menguasai keterampilan pembuatan perkakas tangan secara turun-temurun. Selain itu, pasar untuk produk ini masih sangat luas, mengingat Indonesia adalah negara dengan sektor agraris yang kuat,” ujar Menperin dalam pernyataannya di Jakarta.
Pangsa Pasar yang Luas
Menurut Agus, terdapat banyak IKM, industri besar, serta perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan, perkebunan, dan pertanian yang masih sangat membutuhkan perkakas tangan hasil dari proses manufaktur sederhana. Biasanya, produk-produk ini digunakan dalam berbagai tahap proses panen.
- Peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN)
- Perusahaan semakin percaya diri menggunakan produk IKM bersertifikat SNI
- Pengembangan sentra produksi di berbagai daerah
- Peningkatan keterampilan tenaga kerja
- Perluasan akses pasar domestik
Melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Kemenperin berharap agar produk-produk perkakas tangan buatan IKM yang ada di berbagai sentra daerah dapat semakin diterima oleh pasar domestik. “Dengan memiliki sertifikasi SNI, perusahaan semakin yakin untuk menggunakan produk IKM,” tambahnya.
Data dan Potensi IKM Perkakas Tangan
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menyatakan bahwa berdasarkan data dari SIINas per pertengahan November 2025, terdapat 123 unit IKM perkakas tangan yang mempekerjakan sekitar 512 tenaga kerja. Penyebaran industri ini mencakup dari Sumatera hingga Sulawesi.
“Sentra produksi terbanyak berada di Sumatera Utara, termasuk kota-kota seperti Pematang Siantar, serta kabupaten Tapanuli Selatan, Labuhan Batu, Deli Serdang, dan Langkat,” ungkap Reni. Selain itu, terdapat juga sentra-sentra di wilayah Sumatera Barat, Riau, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Sinergi untuk Meningkatkan Daya Saing
Dalam upaya memperkuat daya saing industri, Kemenperin melalui Ditjen IKMA terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, akademisi, tenaga ahli, dan pelaku usaha sebagai offtaker untuk mengembangkan sentra IKM. Sinergi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan industri lokal.
Namun, tantangan masih ada di depan mata. Beberapa kendala yang dihadapi oleh industri ini termasuk keterbatasan bahan baku baja dengan komposisi karbon tertentu, persaingan dari produk impor, dan kebutuhan investasi yang besar dalam teknologi.
Strategi untuk Mengatasi Tantangan
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Ditjen IKMA melakukan berbagai langkah penguatan melalui fasilitasi kerja sama bisnis, pendampingan teknis, serta restrukturisasi mesin dan peralatan produksi. Selain itu, kemitraan dengan penyedia teknologi dan pemangku kepentingan terkait juga terus diperkuat.
Kolaborasi dengan Industri Besar
Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari, mencatat bahwa IKM perkakas tangan memiliki potensi besar untuk menjadi mitra industri besar, BUMN, maupun pemerintah daerah, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
Contohnya, PT Sarana Panen Perkasa (SPP) yang berlokasi di Medan memproduksi alat-alat panen perkebunan seperti egrek, dodos, dan berbagai jenis pisau. Perusahaan ini telah memperoleh sertifikasi SNI dan TKDN, serta telah mengekspor produknya ke sejumlah negara seperti Liberia, Papua Nugini, Kosta Rika, Panama, dan Kolombia.
“Dalam dua tahun terakhir, PT SPP siap meningkatkan kapasitas produksinya dengan dukungan pasokan bahan baku berkualitas dari PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel,” tutup Dini, menunjukkan optimisme yang tinggi terhadap masa depan industri perkakas tangan di Indonesia.
➡️ Baca Juga: PP Tunas Resmi Berlaku, Meta Ajukan Permohonan Perpanjangan Waktu Pertemuan Komdigi
➡️ Baca Juga: Hendry Kurniawan Ajak Petani Lampung Selatan Memanfaatkan Digital dan IoT untuk Tingkatkan Produktivitas




