Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat Suriah, harga kebutuhan sekolah menjelang tahun ajaran baru 2026/2027 tetap menjadi perhatian utama. Para orang tua di Damaskus terlihat sibuk berkeliling di pasar-pasar tradisional, membandingkan harga perlengkapan sekolah seperti pensil, buku, dan tas. Dalam kondisi yang serba sulit ini, mereka mencari cara untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka tanpa membebani anggaran keluarga yang sudah terbatas.
Harga Kebutuhan Sekolah di Suriah: Sebuah Realitas yang Menantang
Di pasar Al-Asrounieh, yang dikenal sebagai pusat alat tulis di Damaskus Lama, seorang ayah bernama Abu Masa sedang berbelanja untuk kedua putrinya. “Kami datang untuk membeli perlengkapan sekolah. Namun, semuanya terasa mahal, dan banyak keluarga tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan ini,” ungkapnya. Abu Masa menjelaskan bahwa untuk menghemat pengeluaran, keluarganya terpaksa menggunakan perlengkapan sekolah yang ada secara bergantian, seperti tas sekolah yang diwariskan dari kakak kepada adik. Hal serupa juga dialami oleh Fadi, seorang warga lainnya, yang mengaku tidak mampu membeli semua kebutuhan sekolah untuk anak-anaknya sekaligus.
Berdasarkan informasi harga di pasar setempat pada tanggal 5 September, satu set perlengkapan alat tulis dasar untuk anak sekolah dasar dihargai sekitar 100.000 hingga 250.000 pound Suriah lama (setara dengan 8 hingga 19 dolar AS), tergantung pada jumlah dan kualitas barang yang dibeli. Sementara itu, harga buku tulis berkisar antara 3.000 hingga 10.000 pound Suriah lama, dan pena dijual antara 700 hingga 3.000 pound Suriah lama. Angka-angka ini menunjukkan betapa tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.
Biaya Tambahan yang Membebani Keluarga
Biaya kebutuhan sekolah tidak hanya terbatas pada alat tulis. Ketika harus membeli pakaian, sepatu, dan tas sekolah, pengeluaran semakin meningkat. Pakaian untuk anak sekolah dasar biasanya harganya berkisar antara 4 hingga 10 dolar AS, sedangkan tas sekolah dan sepatu masing-masing berada di kisaran 5 hingga 15 dolar AS. Total biaya untuk perlengkapan sekolah dan pakaian bagi satu anak bisa mencapai puluhan dolar AS. Hal ini sangat memberatkan, terutama jika dibandingkan dengan pendapatan masyarakat yang semakin menurun.
Dengan upah minimum bulanan di Suriah yang hanya sebesar 12.560 pound Suriah baru (sekitar 105 dolar AS), biaya untuk kebutuhan dasar pendidikan dapat menyerap sebagian besar pendapatan bulanan. Jika dihitung, total biaya perlengkapan alat tulis, tas, sepatu, pakaian, dan kebutuhan lainnya bisa mencapai seperlima hingga lebih dari setengah dari upah minimum bulanan yang diterima. Hal ini menimbulkan tekanan finansial yang besar bagi banyak keluarga yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka.
Perubahan Pola Belanja di Tengah Krisis Ekonomi
Dalam situasi ini, banyak orang tua yang terpaksa menunda pembelian perlengkapan sekolah yang tidak mendesak. Fadi, yang juga berbelanja di pasar, mengungkapkan, “Kami hanya membeli barang-barang yang benar-benar dibutuhkan saat ini. Kami tidak mampu membeli semua perlengkapan sekolah sekaligus.” Dari sisi penjual, Mohammad Khair Jaqmaqji, pemilik toko alat tulis di Damaskus Lama, mencatat perubahan dalam perilaku belanja pelanggan. “Tahun ini, pelanggan lebih selektif dalam berbelanja dibandingkan tahun lalu. Banyak yang hanya membeli barang-barang yang sangat diperlukan,” tuturnya.
Walaupun ada tanda-tanda stabilisasi ekonomi, seperti penurunan inflasi yang dilaporkan oleh Bank Dunia menjadi 11,5 persen pada tahun 2025, tingginya biaya hidup dan lemahnya pasar tenaga kerja tetap menjadi masalah yang membebani banyak rumah tangga. Situasi ini diperparah oleh kebutuhan untuk melakukan rekonstruksi di tengah sistem pendidikan yang masih dalam pemulihan setelah bertahun-tahun konflik dan kerusakan.
Progres Pemulihan Sistem Pendidikan
Kementerian Pendidikan Suriah melaporkan bahwa sebanyak 1.370 sekolah telah direhabilitasi sepanjang tahun 2026, setelah sebelumnya 2.017 sekolah pada tahun 2025. Namun, lebih dari 6.000 sekolah lainnya masih memerlukan rehabilitasi dan pemeliharaan. Selain itu, lebih dari 500.000 anak Suriah telah kembali dari luar negeri, yang memperburuk tekanan pada sistem pendidikan yang sudah terbebani. Menurut data dari UNICEF, sekitar 2,45 juta anak masih belum bersekolah.
Di pasar-pasar Damaskus, para orang tua menghadapi tantangan besar dalam memastikan anak-anak mereka kembali ke sekolah tanpa menambah beban anggaran rumah tangga yang sudah ketat. Pada hari Senin, 7 September, anak-anak Suriah akan kembali ke ruang kelas, dan bagi orang tua seperti Abu Masa dan Fadi, keputusan untuk membeli perlengkapan sekolah menjadi sangat krusial. Mereka harus mempertimbangkan apa yang dapat dibeli, apa yang bisa digunakan kembali, dan apa yang harus ditunda.
Strategi Menghadapi Tingginya Biaya Kebutuhan Sekolah
Mengetahui bahwa harga kebutuhan sekolah di Suriah terus meningkat, banyak orang tua yang mulai menerapkan strategi tertentu untuk mengatasi krisis ini. Berikut adalah beberapa cara yang dapat diambil untuk mengurangi beban finansial:
- Membeli Secara Bertahap: Alih-alih membeli semua perlengkapan sekaligus, orang tua dapat memilih untuk membeli barang-barang yang paling mendesak terlebih dahulu.
- Memanfaatkan Barang Bekas: Memanfaatkan perlengkapan yang masih layak pakai dari tahun sebelumnya dapat menghemat biaya.
- Belanja di Pasar Tradisional: Mencari penawaran terbaik di pasar lokal sering kali lebih menguntungkan daripada membeli di toko-toko besar.
- Membandingkan Harga: Selalu penting untuk membandingkan harga antar toko untuk mendapatkan penawaran terbaik.
- Mencari Bantuan: Beberapa organisasi non-pemerintah menawarkan bantuan untuk keluarga yang membutuhkan dalam bentuk perlengkapan sekolah.
Dampak Jangka Panjang dari Krisis Ekonomi dan Pendidikan
Penting untuk dicatat bahwa dampak dari krisis ekonomi dan pendidikan ini tidak akan hanya dirasakan dalam jangka pendek. Anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang memadai berisiko menghadapi masa depan yang suram. Pendidikan adalah fondasi untuk masa depan yang lebih baik, dan tanpa akses yang memadai, generasi mendatang akan kesulitan untuk berkontribusi pada pembangunan negara.
Oleh karena itu, solusi jangka panjang harus dipertimbangkan, termasuk investasi dalam pendidikan dan program dukungan untuk keluarga yang terdampak. Dengan upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga swasta, dan masyarakat sipil, diharapkan akan ada perbaikan yang signifikan dalam kondisi pendidikan dan kehidupan masyarakat Suriah. Dalam konteks ini, memastikan akses pendidikan yang layak menjadi tanggung jawab bersama.
Dengan harapan akan adanya perubahan positif di masa depan, para orang tua di Suriah terus berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, meskipun tantangan yang dihadapi terasa sangat berat. Tahun ajaran baru ini menjadi simbol harapan bagi banyak keluarga, meskipun mereka harus cermat dalam mengelola keuangan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.
➡️ Baca Juga: Kodim 0613 Ciamis Gelar Bazar Ramadan, Sembako Murah Diserbu Warga
➡️ Baca Juga: Lyon Berhasil Imbang di Kandang Angers, Paris FC Tertahan oleh Lorient
