Generasi 40+ Kini Berani Bereksperimen dengan AI untuk Tingkatkan Keterampilan Digital

Jakarta – Selama ini, teknologi dan kecerdasan buatan (AI) sering kali diidentikkan dengan generasi muda. Sementara itu, generasi 40+ kerap dianggap sebagai kelompok yang lebih lambat dalam beradaptasi dengan perkembangan digital. Namun, anggapan ini mulai dipatahkan oleh penelitian terbaru. Riset yang dilakukan oleh Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) dan dipresentasikan dalam ASEAN SEI-KATSU SHA FORUM 2026 pada 3 September 2026 menunjukkan bahwa generasi 40+ kini memasuki fase baru dalam pemahaman teknologi. Mereka bahkan diberi label sebagai Prime Generation, yang memiliki kekuatan di bidang finansial, kesehatan, dan teknologi. Hasil studi menunjukkan bahwa Prime Generation semakin terbuka untuk mempelajari berbagai platform digital, mulai dari pengeditan video hingga kecerdasan buatan. Mereka tidak ragu untuk bertanya kepada anak-anak atau generasi yang lebih muda ketika berhadapan dengan teknologi yang belum mereka kuasai.
Dari Digital Adaptor Menjadi Digital Experimenter
Menurut Strategic Planning Manager Hakuhodo International Indonesia, Sanu Pratomo, keterbukaan generasi 40+ terhadap teknologi telah menghasilkan perubahan signifikan dalam hubungan mereka dengan dunia digital. Mereka tidak hanya menggunakan platform digital karena kebutuhan, tetapi mulai menjelajahi berbagai fungsi dan kemungkinan baru yang ditawarkan oleh teknologi. “Mereka bisa dibilang digital experimenter, bukan hanya digital adaptor,” jelas Sanu.
Pola ini terlihat jelas dalam perilaku belanja mereka. Sekitar 73 persen dari generasi Prime dalam penelitian tersebut mengaku pernah melakukan pembelian melalui live shopping. Hal ini menunjukkan bahwa mereka semakin akrab dengan ekosistem digital dan cara baru bertransaksi. Sanu juga mengungkapkan bahwa bagi Prime Generation, AI kini dilihat sebagai alat yang dapat membantu mereka menjalani kehidupan dengan lebih optimal.
AI sebagai Alat Pembantu dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagi generasi ini, AI tidak hanya sekadar teknologi canggih, tetapi juga merupakan solusi praktis untuk berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. “Bagi Prime Generation, mereka melihat AI sebagai sesuatu yang sangat dapat membantu dalam menjalani kehidupan agar lebih maksimal,” ungkap Sanu. Dengan memanfaatkan AI, mereka bisa mengoptimalkan waktu dan sumber daya yang ada, sehingga kehidupan sehari-hari menjadi lebih efisien.
Teknologi sebagai Modal untuk Membangun “Second Life”
Kemajuan teknologi, terutama AI, memberi kesempatan kepada generasi 40+ untuk tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga untuk membangun fase kehidupan baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa mereka dapat mengandalkan pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka kumpulkan selama bertahun-tahun untuk menciptakan apa yang disebut sebagai “second life”. Menurut Siti Azizah, Strategic Planning Manager Hakuhodo International Indonesia, fase ini memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi minat baru, menciptakan karya, dan bahkan mengembangkan sumber penghasilan baru.
“Prime Generation is building their second life. A life built on everything they’ve learned before,” ujar Siti. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang teknologi dan AI, mereka dapat memiliki “multiple interest, multiple karya, multiple stream of income, multiple role in life,” yang memungkinkan mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih berwarna dan bermakna.
Peluang dan Tantangan dalam Mengadopsi AI
Meski banyak keuntungan yang ditawarkan oleh teknologi dan AI, generasi 40+ juga menghadapi berbagai tantangan dalam proses adopsi. Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi antara lain:
- Ketidakpastian dalam penggunaan teknologi baru.
- Kekhawatiran tentang keamanan data dan privasi.
- Perbedaan pemahaman antara generasi yang berbeda.
- Kurangnya dukungan atau sumber daya untuk belajar.
- Keterbatasan waktu untuk beradaptasi dengan teknologi baru.
Namun, dengan pendekatan yang tepat dan kemauan untuk belajar, generasi ini dapat mengatasi tantangan tersebut. Mereka dapat memanfaatkan berbagai sumber daya online, kursus, dan komunitas yang mendukung pembelajaran digital.
Peran Komunitas dalam Mendukung Pembelajaran Digital
Komunitas memiliki peran penting dalam mendukung generasi 40+ untuk mengembangkan keterampilan digital mereka. Melalui interaksi dengan orang lain, mereka dapat berbagi pengalaman, belajar dari satu sama lain, dan menciptakan jaringan dukungan. Berbagai forum, grup media sosial, dan acara komunitas dapat menjadi platform yang efektif untuk meningkatkan keterampilan digital.
Dengan adanya dukungan dari komunitas, generasi ini akan merasa lebih percaya diri dalam bereksperimen dengan teknologi baru dan AI. Hal ini juga mendorong mereka untuk lebih aktif dalam mengeksplorasi potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Tips untuk Generasi 40+ dalam Mengembangkan Keterampilan Digital
Agar generasi 40+ dapat lebih berani bereksperimen dengan AI dan teknologi digital, berikut beberapa tips yang dapat diikuti:
- Mulailah dengan platform yang sederhana dan mudah digunakan.
- Ambil kursus online untuk mendalami keterampilan tertentu.
- Ikuti perkembangan teknologi melalui artikel, video, dan webinar.
- Bergabunglah dengan komunitas atau grup yang memiliki minat yang sama.
- Jangan ragu untuk bertanya dan berbagi pengalaman dengan generasi lebih muda.
Dengan menerapkan tips di atas, generasi 40+ dapat lebih mudah beradaptasi dan mengembangkan keterampilan digital mereka.
Masa Depan Teknologi untuk Generasi 40+
Melihat perkembangan yang ada, masa depan bagi generasi 40+ dalam dunia digital sangatlah cerah. Dengan kemampuan mereka untuk belajar dan beradaptasi, ditambah dengan pengalaman hidup yang kaya, mereka memiliki potensi untuk membuat dampak yang signifikan dalam berbagai bidang.
Generasi ini tidak hanya akan menjadi konsumen teknologi, tetapi juga bisa menjadi inovator dan pencipta. Dengan memanfaatkan AI dan teknologi digital, mereka dapat menciptakan solusi baru yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Generasi 40+ kini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi gaptek. Mereka berani bereksperimen dengan AI dan teknologi digital untuk meningkatkan keterampilan serta kualitas hidup mereka. Dengan pendekatan yang tepat, dukungan komunitas, dan semangat untuk terus belajar, mereka dapat membangun kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna di era digital ini.
➡️ Baca Juga: Teja Paku Alam Hanya Butuh 2 Clean Sheet untuk Geser Rekor Legenda Persipura Yoo Jae-hoon
➡️ Baca Juga: Ulasan Perekam Suara Digital dengan Fitur Peredam Kebisingan yang Efektif dan Handal




